Sambil membacakan cerita pada anak saya dalam dua tahun pertamanya, saya sering berpikir bagaimana dia mengartikan kata-kata, gambar dan intonasi suara saya. Ketika dia berbaring di pangkuan saya pada saat dia baru berusia dua bulan, menatap baju dan kotak pasir pada buku Lucy Cousins' Maisy's Colors, bagaimana dia memproses gambar-gambar itu? Ketika dia memilih Richard Scarry's Humperdink's Busy Day over My First Body Board Book di usia 20 bulan, apa yang membuatnya tertarik pada satu buku dan bukan yang lain?
Para ahli baca tulis tidak sepenuhnya mengerti mengenai bagaimana otak anak-anak yang masih sangat muda berinteraksi dengan buku, tapi mereka tahu bahwa bayi dan batita merespon unsur yang berbeda dari pengalaman membaca. Berikut adalah pedoman tentang apa yang mungkin terjadi dalam otak anak Anda ketika Anda membacakan ‘Jamberry’ untuk kesekian kalinya.
Bayi Kecil: Yang Penting Itu Sikap
Untuk bayi baru lahir, membaca terutama dapat menumbuhkan hubungan dengan pengasuh dan menciptakan perilaku positif terhadap buku. Di enam bulan pertama bayi, orang dewasa membangun pondasi bagi bayi untuk menghubungkan membaca dengan kebahagiaan dan koneksi.
"Bayi baru lahir tidaklah terlalu tertarik dengan buku tapi lebih kepada kenyamanan dan kedekatan karena dipeluk dan ritme dan intonasi dari suara orang dewasa," kata Dr. Ann Barbour, PhD, profesor pendidikan kanak-kanak awal pada California State University. Untuk mengembangkan kedekatan ini, orang tua dapat membacakan syair-syair atau lagu anak-anak sambil memegang bayi dalam posisi yang nyaman, kata Dr. Barbour.
Bayi baru lahir cenderung menyukai melihat-lihat gambar muka manusia, menurut Dr. Stephen Herb, PhD dan Dr. Sara Willoughby-Herb, PhD, dalam buku mereka Using Children's Books in Preschool Settings. Di usia ini, orang tua dapat "memilih beberapa buku yang disukai bayi dan membacakannya berulangkali pada mereka."
Sebagai tambahan, bayi kecil “benar-benar dapat melihat warna-warna cerah" dan mungkin menyukai buku seperti itu, kata Sherry Wong, direktur strategi produk pada Talaris Research Institute di Seattle. Lembaga ini mengkomunikasikan hasil penelitian dalam bidang perkembangan kanak-kanak awal kepada para orang tua.
Secara perkembangan, mendengarkan bahasa lisan di usia muda “mengembangkan pusat-pusat bicara di otak," memungkinkan bayi untuk membedakan dan mengenali bunyi-bunyi yang berbeda, kata Dr. Bob Stevens, PhD, profesor muda dalam psikologi pendidikan pada Penn State University. “Kesadaran fonemik” ini dapat membantu anak-anak dalam memahami kosa kata yang luas ketika mereka bertumbuh dewasa.
Akan tetapi, anak-anak tidak dapat benar-benar memahami isi buku sampai mereka mengerti bahasa lisan, menurut Dr. Margaret Moustafa, PhD, profesor pendidikan di California State University, "Sampai anak-anak memiliki cukup bahasa lisan untuk memahami buku-buku yang dibacakan pada mereka," papar Dr. Moustafa, "yang dapat mereka pelajari dari dibacakan buku adalah kegiatan yang terkait dengan membaca seperti bagaimana membalik halaman."
Bayi Lebih Dewasa: Saya Pikir Ini Mungkin Ada Artinya
Di paruh kedua tahun pertama, anak-anak dapat berfokus lebih banyak ke buku, sebagian karena mereka sudah dapat duduk. "Lebih mudah bagi saya untuk membaca dengan duduk atau berdiri, dibandingkan dengan berbaring," kata Dr. Barbour.
Semakin dekat ke usia satu tahun, anak-anak mulai memahami bahwa gambar-gambar mewakili benda-benda di lingkungan mereka," bahwa gambar bola merupakan simbol dari bola yang nyata, kata Dr. Barbour. Nantinya, anak-anak menggunakan koneksi ini terhadap simbol-simbol lain seperti angka dan huruf.
Menggunakan pemahan baru tentang simbol ini, Dr. Herb dan Dr. Willoughby-Herb menyarankan agar orang tua "menunjuk ke benda-benda dan memberinya nama di tiap halaman" di buku biasa. Setelah beberapa kali membacakan buku yang sama, orang tua dapat "mendorong bayi untuk menunjuk ke satu benda tertentu," terutama sesuatu yang disukainya.
Begitu anak-anak mendekati usia satu tahun, mereka "mulai mengenali bahwa buku-buku ada ceritanya," kata Dr. Barbour — bahwa kata-kata menceritakan sesuatu dan menyampaikan makna. Dr. Stevens menyebut ini sebagai "kesadaran cetakan" dan menganggapnya sebagai dasar yang penting bagi pengajaran membaca yang formal di kemudian hari.
Batita Muda: Oh, Begitu!
Masa pertumbuhan yang menakjubkan dari usia satu ke dua tahun membawa rasa penguasaan dan kebahagiaan berkaitan dengan buku-buku yang akrab dengan anak. Usia ini juga memperkenalkan fisikalitas yang dapat digunakan oleh orang tua dalam membaca.
Bila "buku merupakan bagian dari pengalaman [anak] sehari-hari di rumah – mereka sama akrabnya dengan mainan – [anak-anak] akan senang dibacakan buku," kata Dr. Barbour. Batita muda lebih tertarik kepada isi buku dibandingkan ketika mereka masih bayi dan seringkali memperlakukan membaca sebagai permainan cilukba, ingin mengetahui apa yang ada di halaman berikutnya, tambahnya.
Ketika anak-anak mulai mengucapkan beberapa kata, penting untuk menyediakan buku-buku bergambar yang dapat mereka beri nama dan mereka ulang ke orang tua mereka, kata Wong. Selanjutnya di tahun kedua, banyak batita juga menyukai buku-buku bersajak atau berlagu.
Pada tahap ini, sangat penting untuk menyediakan buku-buku bersampul keras “agar dia dapat ‘membaca’ dan membolak-balik halaman sendiri," kata Dr. Herb dan Dr. Willoughby-Herb. Mereka juga menyarankan untuk menyiapkan rak buku atau daerah lainnya yang mudah dijangkau, sehingga anak “dapat menemukan buku-bukunya sendiri dan menyimpannya," yang dapat memberikan rasa pencapaian dalam membaca.
Dengan kesukaan batita muda menjelajah ke mana-mana, apa yang harus dilakukan orang tua untuk mempertahankan minat mereka saat membaca? Yang paling penting, menurut para ahli, adalah untuk mengikuti tuntunan dari anak dan tidak memaksakannya.
"Mungkin yang paling parah yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah mengatakan, 'Waktunya membaca!'" dan mulai membaca halaman-halaman buku sampai selesai, kata Wong. Sebaliknya, teruslah membaca ketika anak memilih untuk berjalan-jalan. "Mereka dapat berjalan-jalan di ruangan, mereka dapat merangkak – Anda tetap membacakan cerita," kata Wong. Membaca di usia ini tetaplah berfokus pada menghubungkan buku dengan kesenangan dan hubungan, bukan mengenai duduk diam-diam.
Ada banyak buku untuk tiap anak, "bahkan untuk anak-anak yang selalu bergerak dan tidak pernah duduk diam," kata Dr. Herb, yang merupakan direktur pada Pennsylvania Center for the Book di Penn State University. Dia juga menyarankan untuk menggunakan saat-saat dimana anak-anak memang sedang dalam posisi tidak berjalan-jalan, seperti saat makan di kursi bayi atau saat menjelang tidur.
Umur Dua Tahun dan Seterusnya: Interaksi
Saat mereka mulai berbicara, anak-anak berpindah dari memberi nama pada gambar ke dialog dengan buku. Pada saat ini, sangatlah penting untuk “mengikuti minat mereka," kata Dr. Moustafa, seperti bulan atau truk atau bahkan knalpot mobil. Saat orang tua berbicara kepada anak-anak mereka mengenai suatu kesenangan, percakapan itu membantu menciptakan “’skema’ atau pengetahuan akan dunia dari anak itu," kata Dr. Moustafa, memungkinkan anak-anak untuk lebih memahami topiknya.
Yang juga penting adalah untuk membahas cerita dengan anak dan memastikan bahwa mereka memahami bahasanya dan maknanya. "Tidak apa-apa untuk berfokus pada kata-kata," seperti, "Apakah kamu mengerti artinya raksasa?" dan kemudian berbicara mengenai bagaimana kata tersebut muncul di dalam cerita, kata Dr. Stevens.
Lebih umumnya, orang tua dapat membaca "dengan cara yang memungkinkan anak untuk memahami cerita," kata Dr. Moustafa. "Ini bisa berarti mengantisipasi masalah pengertian atau merespon pertanyaan anak." Bila orang tua hanya membaca cerita, tanpa berhenti untuk menjawab pertanyaan atau memeriksa apakah anak paham, anak mungkin merasa ingin meninggalkan ruangan karena frustrasi, kata Dr. Moustafa lagi.
Di Usia Berapa Saja: Ikutilah Petunjuk dari Anak Anda
Di tiap tahap perkembangan sebelum bisa membaca, orang tua dapat berbuat yang terbaik bagi anak dengan memperhatikan dan merespon petunjuk yang diberikan anak, seperti minat lebih besar pada buku-buku tertentu dan keinginan untuk duduk diam atau berjalan-jalan ketika membaca. Orang tua kemudian akan "mempersiapkan situasi untuk anak-anak yang ingin membaca," kata Dr. Barbour, dan membuat membaca bagian dari kehidupan sehari-hari.
Dengan sering membaca kepada anak dengan cara yang interaktif dan membangkitkan semangat, orang tua juga akan membantu anak-anak mengembangkan ketrampilan yang akan membantu mereka di sekolah, terutama kemampuan untuk fokus. "Anda dapat mengajari anak-anak mengenai fonem, tapi bila mereka tidak dapat memusatkan perhatian cukup lama untuk membunyikan suatu huruf, untuk menunjukkan bagaimana tulisan mengalir di halaman,” kata Wong, “maka seluruh teknik yang ada tidak akan dapat membantu."
Akan tetapi, para ahli baca tulis sangat tidak menganjurkan orang tua untuk mencoba mengajarkan ketrampilan membaca formal pada anak-anak kecil – orang tua seharusnya fokus pada membangun hubungan.
Di atas semuanya, orang tua harus santai saja ketika membaca keras kepada bayi atau batita. "Kata kuncinya adalah bermain," papar Dr. Herb. "Bila Anda memperlakukan kegiatan sebelum bisa membaca sebagai hal yang mengasyikkan, bahasa sebagai permainan… anak akan lebih mungkin tumbuh menjadi mahir baca tulis dan mampu baca tulis sejak awal."
Sarah Cooper adalah seorang penulis dan guru sekolah menengah yang kolom dan fiturnya muncul di berbagai majalah, situs web dan suratkabar. Dia tinggal bersama suami dan anaknya di Pasadena, California. Artikel ini dipersembahkan oleh:
