Waktunya Bermain!
Datanglah ke rumah saya, dan Anda pasti akan menemukan apa yang saya anggap sebagai pesta terlama di dunia! Anak-anak saya yang berusia 1, 2, dan 5 tahun semuanya akan tampak sangat sibuk bermain dengan balok-balok. Harap diingat, biasanya mereka tidak bermain bersama (terkadang bahkan tidak berada di dalam ruangan yang sama), tetapi semuanya akan melakukan kegiatannya sendiri, dengan konsentrasi penuh, dan sangat menikmatinya.
Jika mereka tidak menggunakan balok, mereka mungkin sedang bermain dengan bola. Tidak menjadi masalah bagi saya, selama mereka tidak bermain bola di dalam rumah. Tapi apa sih yang membuat mainan-mainan ini sangat disukai anak-anak? Dan apakah anak-anak saya seharusnya berlatih membaca dengan
flash card, bukannya bermain dengan mainan-mainan sederhana ini?
Balok-Balok
Balok adalah seperti multivitaminnya pendidikan. Anak-anak yang bermain dengan balok-balok tidak hanya sedang mengasah kemampuan motorik kasar dan halusnya, tapi mereka juga belajar berbagai hal mulai dari konsep dasar matematika hingga pemecahan masalah. Sebuah studi bahkan menunjukkan bahwa anak-anak prasekolah yang sudah terbiasa bermain balok memiliki nilai matematika dan nilai tes masuk ke sekolah dasar yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak. Seperti dijelaskan oleh Sharon MacDonald, pelatih guru-guru pendidikan dini dan pengarang buku
Block Play (Gryphon House), “Ketika anak Anda bermain dengan balok-balok, ia mengembangkan pemahaman mengenai pecahan, bentuk, dan berhitung.” Tentu saja, bukan berarti anak Anda yang berusia 2 tahun akan langsung mengetahui beda antara setengah dan seperempat. Konsep matematika akan terungkap di tahap-tahap yang berbeda pada umur yang berbeda-beda.
Tiga Tahap Permainan Balok
Tahap pertama dari permainan balok adalah tahap yang disebut oleh MacDonald dengan “Pikul dan Bawa”. Anak Anda yang berusia 2 tahun hanya sesekali membangun dari balok-balok atau malah tidak sama sekali, tapi ia bisa menumpuk, mengangkut dan menjatuhkan mereka – dan dalam proses tersebut belajar tentang berat, stabilitas dan keseimbangan. Tentu saja pelajaran paling favorit untuk balita adalah yang paling berisik dan berantakan: gravitasi. Balita belajar dengan cepat bahwa apa yang naik ke atas harus jatuh ke bawah – dan bahwa menjatuhkan balok-balok yang sudah disusun menimbulkan efek yang menyenangkan dan mengganggu saudara-saudara lain yang sudah lebih besar. “Anak-anak menyukai keteraturan dan struktur, tapi pada usia muda mereka lebih menyukai menciptakan kekacauan,” ujar MacDonald. “Hanya dengan menumpuk satu balok di atas yang lain, mereka belajar bahwa sesuatu yang tidak stabil akan jatuh, sementara yang stabil tidak.”
Saat anak Anda menginjak usia 3 tahun, ia akan memasuki tahap selanjutnya dari permainan balok yaitu “menumpuk dan menyusun dalam barisan”. Sekarang ia bisa menumpuk balok secara vertikal atau menaruhnya di meja dan menyusunnya secara horisontal. Ia belum membangun dengan tujuan tertentu, tapi ia sudah mulai mencoba pola-pola. Pola pertama biasanya menaruh balok-balok yang sama di lantai satu persatu lalu membuat sesuatu yang berbeda, seperti menaruh kotak setelah segitiga, dan menaruh kotak lain setelah segitiga berikutnya, dan begitu seterusnya. “Matematika adalah studi tentang pola,” ujar MacDonald. “dan mendorong anak dalam membuat pola balok akan memberikan dasar bagi kemampuan matematikanya.” Di sinilah konsep mengenai pecahan mulai muncul. Ketika ia menaruh dua balok bersisian, ia akan melihat bahwa dua balok tersebut bersama-sama membentuk satu balok yang lebih besar.
Pada tahap selanjutnya, “membangun jembatan”, anak usia prasekolah mulai membangun struktur sederhana. Ia akan menaruh dua balok, dan menaruh balok ketiga di atas jarak antar kedua balok pertama. Selain belajar mengenai bagaimana menyeimbangkan, ia juga mulai bereksperimen dengan simetri. Membangun jembatan akan membawanya ke “penutupan”. Kamu tidak bisa membangun tanpa mampu mengatur dan menutup ruang. “Bagaimana saya akan mengisi ruang ini?” merupakan pertanyaan yang cukup rumit. Anak Anda perlu menentukan berapa banyak balok besar dan kecil yang diperlukan untuk mengisinya. Anak Anda tidak hanya sedang melakukan perencanaan, tapi juga sedang memecahkan masalah.
Bersenang-senang Bermain Bola!
Balok bukan satu-satunya mainan yang menarik di ruang permainan. Bahkan seorang bayi bisa mengikuti gerakan bola dengan matanya saat bola itu bergulir di lantai. Ketika melakukannya, mereka harus “mengikuti arah bola dan mengantisipasi lokasi bola ketika bola itu bergerak menuju mereka,” menurut Maureen Maiocco, direktur program pendidikan dini di SUNY Canton, New York. Kegiatan mengikuti secara visual ini membantu koordinasi pergerakan mata bayi dengan gerakan badannya. Di samping itu, memperkirakan kapan bola akan muncul kembali mendukung konsep bahwa sesuatu yang menghilang dari penglihatan tidak selalu berarti hilang untuk selamanya.
Ketika bayi sudah lebih besar dan bisa merangkak mengejar bola, mereka melatih kesadaran spasialnya – seberapa jauh bolanya? Di mana tubuh saya relatif terhadap bola tersebut? Ketika batita beranjak ke usia prasekolah, kesadaran spasial berkembang ke arah berpikir logis. Sekarang ketika mereka sudah mahir melempar dan menangkap, mereka harus mulai menentukan seberapa kuat lemparannya dan ke arah mana. Dengan kata lain, mereka harus memperkirakan parameter-parameter untuk melempar dan menangkap.
Anak prasekolah akan mulai memandang permainan bola sebagai suatu eksplorasi ilmiah. Ketika ia menggelindingkan bola, misalnya, ia menyadari bahwa bola dengan ukuran yang berbeda-beda akan menggelinding dengan kecepatan yang berbeda pula. Emily Vosper, direktur
Children’s Center di SUNY Ulster County Community College, di Stone Ridge, New York, menggambarkan proses ini sebagai “cara berpikir tingkat tinggi yang muncul dari alat-alat dasar.” Bisa juga dianggap sebagai pelajaran fisika untuk anak 4 tahun.
Bagaimana Gelas Bisa Ditumpuk
Ketika anak-anak saya bermain menyusun gelas, saya suka menganggapnya sebagai cara yang baik untuk mengosongkan mesin pencuci piring, tetapi mereka sebenarnya sedang mengasah ketrampilan matematika dan sains. Antara usia satu dan dua tahun, anak sudah mulai bisa menaruh gelas di atas gelas lainnya. Dia biasanya tidak menumpuknya dengan aturan tertentu, tapi dia mulai memahami hubungannya antar ukuran. Jangan paksa dia untuk melakukannya dengan “benar”. Saat ia bertambah besar, ia akan menyadari bahwa bila saya menaruh gelas yang lebih kecil ke dalam gelas besar, gelas ukuran sedang tidak akan muat di dalam gelas kecil. Ia mulai mengerti tentang serisasi – sebuah kata yang artinya menaruh benda dalam urutan yang sesuai.
Bayi bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengisi dan membuang isi gelas di bak mandi atau kotak pasir. Ketika mereka mulai menyadari perbedaan antara penuh dan kosong, mereka mulai mengerti tentang volume. Ia mulai bisa melihat bahwa ia bisa mengisi gelas yang paling besar dengan pasir dari banyak gelas kecil, tapi menuang pasir dari gelas besar ke gelas kecil akan mengakibatkannya luber.
Tinggal Tambahkan Air!
Bermain air menambah ilmu pengetahuan bagi anak. Seperti yang diutarakan oleh John Cerio, PhD, seorang profesor di fakultas psikologi pada Alfred University, di Alfred, New York, anak-anak mampu mempelajari konsep yang sulit di tingkat yang sangat dasar. Bila Anda menuang air dari satu wadah ke wadah lain yang berbeda bentuk, Anda tetap memiliki air dalam jumlah yang sama. Tanpa permainan yang langsung melibatkan mereka, kebanyakan anak akan mengatakan bahwa wadah yang lebih tinggi pasti muat lebih banyak.
Nah, Anda sudah tahu semuanya. Balok, bola dan gelas – para superhero dari dunia mainan. Apa sih rahasianya? Beberapa ahli percaya bahwa mainan yang konvergen (yang hanya memiliki satu tujuan, seperti
puzzle) mendorong anak untuk mencari satu jawaban yang benar, sementara mainan yang divergen (dengan lebih dari satu tujuan) membimbing anak-anak untuk menggunakan banyak pendekatan, membantu mereka memahami bahwa beberapa masalah bisa mempunya banyak solusi. Mungkin ini sebabnya anak-anak selalu kembali ke mainan-mainan ini. Mainan-mainan tersebut mungkin tidak akan jadi mainan yang diinginkan oleh anak-anak saat ini, tapi mereka pun tidak gampang dilupakan begitu saja.
Teman-teman di Lemari Mainan
Seperti diketahui oleh semua orang tua, lemari mainan belumlah lengkap tanpa sekumpulan boneka binatang, boneka, dan tokoh-tokoh pahlawan. Walaupun Anda merasa bahwa rumah Anda dikuasai oleh mereka, mainan-mainan ini punya manfaat juga; peran mereka sangat besar dalam perkembangan imajinasi.
“Ketika balita Anda memasak untuk teman-teman bonekanya, atau memandikannya, ia mempraktekkan peran orang dewasa yang akan membantu mereka memahami dunia,” ujar Amy Flynn, direktur
Bank Street Family Center, di kota New York. Anak usia prasekolah bahkan bertingkah lebih dramatis dengan memberikan boneka dan boneka binatang mereka sifat manusia dengan berpura-pura bahwa mereka memiliki konflik dan rasa frustrasi. Anda mungkin melihat anak Anda yang berusia 3 tahun sedang memarahi boneka binatangnya, “Kamu dihukum!” (Anda bukan satu-satunya ibu yang merasa kaget dan membayangkan apakah seperti itulah Anda kedengarannya bagi anak Anda!). Selanjutnya, Anda akan melihat anak Anda mengulang kembali kejadian-kejadiannya, tapi dengan hasil akhir yang lebih disukai anak – contohnya, membiarkan boneka-bonekanya makan kue sebelum makan malam.
Salah satu manfaat bermain pura-puraan, menurut Flynn, adalah “cara ini memberikan anak-anak cara yang aman untuk mengeksplorasi perasaannya ketika dia merasa bisa mengendalikan suasana.” Dengan kata lain, boneka-boneka dan beruang kecil di kehidupan Anda membantu anak Anda untuk mampu menerima emosinya.
Moira Moderelli adalah penulis di Pelham, New York. Awalnya dipublikasikan di majalah American Baby, Juni 2006. Artikel ini dipersembahkan oleh: